Cerpen Alunan Hidup
ini adalah cerpen pertama aku, semoga yang baca terkesima dan termotovasi untuk selalu berusaha dan berkreasi sesuai kemampuan kita. oke langsung aja
ALUNAN HIDUP
Alunan merdu petikan gitar Iqbaal membuat suasana menjadi hangat. Bakat
bermain gitar ini, Iqbaal miliki saat ia masih berumur 8 tahun. Saat itu, Iqbaal
yang masih duduk dibangku SD. Dirumah
Iqbaal sering bermain-main dengan gitar mainannya. Gitar mainan itu selalu
disampingnya kemanapun Iqbaal pergi. Orang tua Iqbaal melihat bakat anaknya
dalam bermain gitar, saat umurnya 13 tahun Iqbaal diajak orang tuanya itu
mengikuti les musik, mendengar hal itu Iqbaal sangat senang karena, ia tidak
hanya bermain gitar saja tapi diajarkan menjadi pemain gitar yang sangat
berbakat. Iqbaal mahir dalam bermain gitarnya, ia sering mengikuti lomba dan
pulang membawa piala.
Kini Iqbaal mulai beranjak dewasa , saat ini ia baru masuk SMA Negri 1
Bandung, sekolah yang menurutnya sangat luar biasa. Masa peralihan dari SMP
menuju SMA yang baru menurutnya sangat asing, membuatnya sulit untuk menemukan
teman. Waktu Masa Orientasi Siswa atau sering disebut MOS, Iqbaal hanya
memiliki satu teman yaitu Kiki. Kiki adalah teman akrab Iqbaal dari SMP, jadi kemanapun mereka pergi selalu berdua.
Pagi itu adalah hari pertama mengikuti MOS, Iqbaal ternyata bangun
kesiangan karena, semalam ia begadang
untuk membuat perlengkapan MOS. Buru-buru Iqbaal mandi, pakai seragam hitam
putih, kaos kaki merah biru, tas karung goni, kalung beraneka ragam, topi
caping yang sudah dihiasi, dan papan nama yang bertuliskan namanya IQBAAL. Jam
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Waktu terus berjalan begitupun langkah kaki Iqbaal
yang terburu-buru. Iqbaal tidak mau seperti legenda paimin, anak baru yang
datang telat dan dibully setiap harinya. Dalam perjalanan, Iqbaal berdoa semoga
ia tidak seperti legenda paimin itu.
Sampai di sekolah Iqbaal ternyata telat dan mendapat hukuman, untung saja
hukumannya tidak seperti paimin, Iqbaal hanya disuruh membersihkan halaman
sekolah. Saat Iqbaal sedang membersihkan halaman, ternyata ada anak baru juga
yang telat. Dia seorang perempuan wajahnya tidak putih, tapi saat dia tersenyum
kepada Iqbaal, senyumannya sangat manis sampai Iqbaal tidak berkedip. Melihat
hal itu, perempuan itu tertawa dan Iqbaal terlihat salah tingkah. Setelah
membersihkan halaman sekolah, Iqbaal mencoba berkenalan dengan anak baru itu
dan namanya adalah Fildza. Saat itulah Iqbaal mempunyai teman perempuan. Mereka bertiga kini
menjadi sahabat.
Tiga hari sudah MOS berlalu hari ini mulai belajar efektif, ternyata
Iqbaal dan Kiki satu kelas, tetapi Fildza tidak. Sekolah mengharuskan siswa
untuk mengikut ekstrakuriluler yang ada disana, seperti osis, pramuka,
paskibra, rohis, drumband, basket, dan
teater. Siswa boleh mengikuti lebih dari satu ekskul. Kiki mengikuti ekskul drumband
dan basket secara tubuh Kiki tinggi, Fildza mengikuti ekskul pramuka dan
teater, dan Iqbaal masih bingung harus mengikuti yang mana, karena semua
kegiatan itu tidak ia gemari, Iqbaal hanya gemar bermain gitar sedangkan ekskul
musik tidak ada di sekolahannya.
Seminggu kemudian, tiba-tiba Iqbaal dipanggil ke kantor. Iqbaal bingung
kenapa ia dipanggil, padahal uang sekolah sudah lunas, tapi kenapa ia
dipanggil. Pikiran itu selalu terbesit dari kelasnya sampai Iqbaal menuju
kantor. Setelah mendapat pengarahan dari guru Bimbingan Konseling, ternyata
Iqbaal sampai saat ini belum memilih ekskul, akhirnya Iqbaal sangat terpaksa
mengikuti ekskul basket bareng Kiki. Setelah jam pelajaran usai, Iqbaal dan
Kiki mengikuti ekskul basket yang diadakan setiap hari kamis. Dua jam berlalu
Iqbaal sama sekali tidak bisa bermain basket dengan lancar, membuat Iqbaal
tidak semangat.
Di rumah wajah Iqbaal seperti dilipat sepuluh, sangat tidak enak untuk
dilihat. Bundanya yang saat itu melihat wajah Iqbaal langsung menanyakan kenapa
raut wajahnya seperti itu, akhirnya Iqbaal menceritakan suasana hatinya dengan
bunda. Bunda menasehati sekaligus memberi saran yang membuat Iqbaal bersemangat
untuk menelpon Kiki dan Fildza.
Keesokan harinya, Iqbaal, Kiki, dan Fildza berkumpul saat jam istirahat tiba. Kebiasaan ini mereka
lakukan setiap jam istirahat. Ketika mereka kumpul semua, Iqbaal membuat suatu
ide yang sebelumnya ia sudah bicarakan
kepada kedua sahabatnya semalam dan kedua sahabatnya juga setuju dengan rencana
Iqbaal, yang akan membuat ekskul baru yaitu ekskul musik. Sekarang mereka bertiga akan menghadap guru
Bimbangan Konseling tentang rencananya. “ Pak saya Iqbaal, Kiki, Fildza ingin
membuat ekstrakurikuler baru pak “ seru Iqbaal. “ Ekskul apa itu ? Bukanya
ekskul sekolah kita sudah banyak ?” kata guru BK. “ Kita ingin membuat ekskul
yang belum ada pak, pasti siswa lain banyak yang setuju kalo ekskul baru ini
diadakan “ lanjut Kiki. “Ekskul apa emangnya ?” tanya guru BK. “Ekskul musik
pak !!” seru mereka bertiga. Guru BK itu diam berpikir sejenak tiba-tiba “ TIDAK
!!!” bentak guru BK itu. “ Tapi pak itu kan bagus ekskulnya” pinta Iqbaal. “ Sudah-sudah
kalian ini menggangu jam istirahat saya saja, mending kalian masuk kelas karena
bel masuk akan berbunyi” perintah guru BK. Mereka pun keluar dari ruangan
dengan wajah yang sangat kecewa.
Pulang dari sekolah Iqbaal tidak langsung pulang karena harus les musik,
mungkin di tempat lesnya Iqbaal merasa lebih baik lagi. Di tempat les Iqbaal
kelihatan melamun membuat guru lesnya bingung. “Iqbaal kamu kenapa kok dari
tadi melamun terus, apa yang kamu pikirkan ?” tanya guru les saat mendekati
Iqbaal. “ Eh gak kok bu saya gak papa, lagi gak mood aja” jawab Iqbaal yang
sangat terkejut. Akhirnya Iqbaal menceritakan semua kejadian di ruang BK tadi.
“Mungkin kamu gak tepat baal” jawab guru les. “Gak tepat gimana bu kan itu saat
istirahat, jadi pas dong waktunya” sergah Iqbaal. “Ya mungkin aja gurumu itu
lagi banyak kerjaan, coba aja di lain waktu tapi inget kita juga harus tau
suasana hati gurumu itu” nasehati guru les. “Ya nanti deh saya coba lagi”jawab
Iqbaal.
Dirumah Iqbaal selalu bermain gitar kesayangannya berwarna merah yang ia
beli dengan jerih payahnya saat menang mengikuti lomba. Diruangan khusus yang
kedap suara, dibuat oleh orang tuanya untuk bermain musik. Diruangan itu tidak
hanya gitar saja, tetapi ada drum, bass, keyboard, dan lain-lain, ruangan musik
itu sangat lengkap membuat Kiki dan Fildza sangat betah untuk main ke rumah
Iqbaal. Saat ini mereka sedang berkumpul, karena mereka sering berlatih sampai
akhirnya mereka mencoba membuat rekaman video permainan musik mereka. Iqbaal
sebagai pemain gitar, Kiki sebagai pemain drum, dan Fildza sebagai penyanyi.
Video yang mereka rekam sering diupload ke youtube dan banyak yang menyukai video
mereka. Kebiasaan itu membuat mereka semakin lebih dekat satu sama lain.
Ketika sekolah mengadakan pentas seni, mereka ikut memeriahkan juga. Banyak teman mereka
yang tidak tahu, bahwa mereka bisa bermain musik. Melihat hal ini mebuat
Iqbaal, Kiki, dan Fildza menjadi sangat bangga, serta membuktikan kepada guru
BK bahwa mereka mampu menampilkan dengan bagus. Di belakang panggung Iqbaal
mendapat banyak pujian bukan hanya dari kalangan perempuan, tapi kalangan
laki-laki juga, serta kakak kelasnya banyak yang memuji penampilanya. Acara
pentas seni pun berakhir hingga sore hari, Iqbaal, Kiki, dan Fildza merapikan
perlengkapan mereka. Saat akan pulang, tiba-tiba Iqbaal didorong dari belakang
sehingga terjatuh dan gitar kesayangannya rusak. Ketika akan bangun untuk
melihat siapa yang mendorongnya, Iqbaal di tonjok sampai tak sadarkan diri.
Kiki dan Fildza saat itu tidak bersama Iqbaal karena mereka sedang mencari
minum. Melihat Iqbaal yang tidur terlentang, “Iqbaaall……….!!!,” jerit Kiki dan
Fildza dari jauh sambil lari terburu-buru. Kiki langsung menghubungi orang tua
Iqbaal dan meminta pertolongan dengan
orang lain, sedangkan Fildza yang sangat panik memeluk Iqbaal dan membersihkan
darah yang ada dibagian mulutnya. Beberapa menit kemudian, orang tua Iqbaal datang
membawanya ke rumah sakit terdekat. “Ki, kenapa kok Iqbaal bisa sampai ditonjok
gini sih ?”, tanya bunda Iqbaal dengan cemas. “Saya gak tau tante, soalnya tadi
saya beli minum sama Fildza. Eh pas mau nyamperin, Iqbaal udah gak sadar,”
jawab Kiki. Kata dokter, Iqbaal mengalami patah tulang pada bagian rahangnya.
Mendengar anaknya mengalami patah tulang bunda Iqbaal langsung menangis.
“Sudahlah bun tenang, sekarang ini kita lagi dapet cobaan sama Allah aja,” ujar
ayah Iqbaal menenangkan bundanya. Malam itu suasana rumah sakit menjadi haru
karena sampai sekarang Iqbaal belum juga siuman. Malam semakin larut, Kiki dan Fildza pamit
pulang karena besok harus sekolah.
Suasana sekolah kini berbeda tidak seperti biasanya, Kiki dan Fildza
kelihatan muram. Teman mereka yang kemarin memuji penampilan mereka bertanya
kenapa Iqbaal tidak masuk. “Ki, Iqbaal kemana kok gak kelihatan sih ?”, tanya
temannya. “Iqbaal sakit !”, jawab Fildza. Kiki tidak menjawab pertanyaan dari
temannya karena Kiki kesal dan bingung. “Siapa yang melakukan semua ini ?,
padahalkan Iqbaal anak baik-baik, kenapa bisa gitu ?”, pikir Kiki. Pulang dari
sekolah Kiki dan Fildza langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani Iqbaal.
Disana Iqbaal masih belum sadarkan diri, bundanya yang menunggu seharian
kelihatan pucat. Melihat kedatangan Kiki dan Fildza, bunda Iqbaal meneminta
mereka untuk menjaga Iqbaal, karena bundanya ingin mengambil baju Iqbaal.
Seminggu sudah Iqbaal di rumah sakit, tapi baru kemarin ia sadarkan diri. Wajahnya
lemas, Iqbaal masih enggan untuk berbicara. Berbicara hanya seperlunya saja,
entah apa yang Iqbaal pikirkan, tapi kelihatan dari raut wajahnya Iqbaal masih
bingung. Kiki yang melihat Iqbaal sadar langsung menanyakan keadaan Iqbaal,
tapi Iqbaal hanya diam. Setelah itu Kiki langsung menghubungi orang tua Iqbaal
dan Fildza. Berita tentang Iqbaal sadar membuat orang tuanya tersenyum lega,
tapi sedikit khawatir tentang keadaan Iqbaal yang masih terdiam tidak seperti
biasanya. Segera kedua orang tua Iqbaal bertanya kepada dokter rumah sakit
tersebut. “Pak anak saya sejak sadar kok berbeda, tidak seperti biasanya ya ?,”
tanya ayah Iqbaal. “Anak bapak masih trauma atas kejadian yang menimpanya,”
jawab dokter. “Butuh beberapa hari untuk mengembalikan kondisinya seperti
semula, Bapak dan Ibu sabar aja, Allah pasti menolong hamba-Nya yang
membutuhkan pertolongan,” lanjut dokter. “Ya , makasih dok,” jawab orang tua
Iqbaal.
Sudah tiga hari ini Iqbaal masih saja terdiam dan bicara seperlunya.
Ketika Fildza sedang duduk mengerjakan tugas sekolah sambil menunggu Iqbaal,
tiba-tiba Iqbaal bertanya, “Dza, sebenernya salah gue ini apa ya, kok gue sampe
ditonjok kayak gini sih,?” tanya Iqbaal. Fildza yang terkejut mendengar Iqbaal
bertanya seperti itu, lalu Fildza mencoba berfikir “Emm, mungkin orang yang
jahat sama loe itu iri, karena loe lebih hebat dari orang itu, biasanya orang
yang kayak gitu harus dimusnahin tuh,” jawab Fildza untuk menghibur hati
Iqbaal. Iqbaal tersenyum dan berkata, “Emang gue sehebat apa gitu sampe orang
gak suka sama gue, Eh tapi bener juga sih kata loe, orang kayak gitu mesti
musnah kalo bisa pindah gitu ke planet lain, planet Mars misalnya, hahaha,”
canda Iqbaal. Suasana berubah menjadi cair, mereka berdua tertawa sampai
terbahak-bahak. Setelah mereka tertawa, Fildza menanyakan kenapa Iqbaal kemarin
diam saja, lalu Iqbaal menjawab karena ia masih binggung kenapa kejadian ini
menimpa dirinya, kemudia Fildza menenangkan Iqbaal.
Semakin hari kondisi Iqbaal semakin membaik, hal ini mebuat orang tua
Iqbaal senang dan akhirnya Iqbaal diizinkan untuk pulang ke rumahnya. Untuk
beberapa hari Iqbaal belum sekolah karena harus beristirahat, tapi Senin besok
Iqbaal mulai sekolah seperti biasanya. Orang tua Iqbaal takut kejadian waktu
itu menimpanya, kini Iqbaal di antar jemput oleh abudemen. Kiki dan Fildza yang
mendengar kalau Iqbaal masuk kembali, buru-buru mereka menunggu kedatangannya.
Kini mereka kembali berkumpul seperti biasa dan ditempat biasa. Walaupun Iqbaal
sedikit berbeda tapi temannya kini bertambah banyak karena kejadian waktu itu,
banyak temannya yang menanyakan kondisi Iqbaal kepada Kiki dan Fildza ketika
Iqbaal masih dirumah sakit dan mereka pun menjenguk Iqbaal di rumah sakit waktu
itu. Ketika sedang ngobrol ternyata banyak teman Iqbaal yang dapat bermain alat
musik. Mereka kini lebih sering main alat musik bersama disekolah, dirumah
Iqbaal, dan ditempat lainnya.
Ada teman baru Iqbaal yang mempunyai Om seorang produser musik terkenal,
namanya Om Efendy mereka berkunjung ke studio Om Efendy. Mereka juga bermain alat
musik, karena disana sarananya sangat lengkap. Mereka bermain sangat asik
sampai mereka tidak sadar kalau Om Efendy memperhatikan mereka sejak tadi,
karena di perhatikan seperti itu mereka langsung berhenti tapi Om Efendy
bukannya marah malah tepuk tangan dan memuji penampilan mereka. “Kalian sangat
berbakat sekali bermain musik sering ikut lomba ya ,?” tanya Om Efendy. “Gak
kok Om, kami latihan sendiri dirumah saya,” jawab Iqbaal. “Tapi kalian
bermainnya sangat bagus sekali,” puji Om Efendy. “Ah Om Efendy biasa aja,”ujar
Kiki. “Kalau begitu kalian mau gak Om ajak rekaman ,?” tanya Om Efendy. “Serius
Om kami diajak rekaman, tapi lagunya apa,?” ujar Fildza. “Nah, itu adalah
tantangan bagi kalian untuk menjadi sukses, Oke Om tunggu sebulan lagi dan
kalian harus sudah menyiapkan lagu untuk rekaman nanti,” pinta Om Efendy. Cita-cita mereka bertiga kita kini sudah
didepan mata, tinggal satu masalahnya yaitu mereka harus menciptakan sebuah
lagu. Demi mewujudkan cita-cita mereka sangat bersemangat untuk membuat sebuah
karya pertama mereka.
Teman-teman Iqbaal mendengar bahwa ia dan dua sahabatnya diajak untuk
rekaman membuat temannya bangga sekali mempunyai teman yang sangat berbakat.
Iqbaal yang mendapat banyak pujian, ia mendapat sebuah rencana yang dulu belum Iqbaal
capai yaitu membuat ekskul musik. Ketika istirahat di tempat biasa mereka
berkumpul dan Iqbaal membicarakan kepada Kiki dan Fildza tentang rencana yang
waktu dulu tertunda. “Ah paling kayak dulu Baal ditolak lagi !,” seru Kiki. “Ya
kita jangan nyerah gitu dong Ki, semoga aja hati guru BK lagi bahagia jadi kita
bisa deh ekskul musik, ya kan ?,” tanya Iqbaal. “Ya betul juga kata Iqbaal, aku
setuju deh!,” seru Fildza. “Gue juga udah bilang sama temen-temen yang laen kok
,” ujar Iqbaal. Tidak nunggu waktu yang lama, mereka bertiga langsung
mendatangi ruang guru BK itu. Suasana menjadi tegang saat masuk ke ruang guru
BK, Iqbaal mengawali pembicaraan yang sangat serius untuk mempertahankan argumentasi mereka.
Sekuat tenaga Iqbaal mempertahankan argumennya tapi tetap saja guru BK tidak
mengizinkan ekskul musik. Teman-teman yang menunggu hasil keputusan Iqbaal di
lapangan merasa cemas dan ternyata kabar yang mereka terima sangat tidak
menyenangkan, salah satu dari teman Iqbaal yang menunggu di luar lari membawa
pengeras suara dan berbicara “Pak kami sangat setuju kalau akan diadakan ekskul
musik, jika Bapak tidak mengizinkan, kami akan demo sekolahan ini, setuju
teman-teman,!” seru profokator. “Setuju,!” teriak teman lainnya. Iqbaal, Kiki,
dan Fildza bengong melihat tindakan teman-temannya yang sangat semangat untuk
diadakan ekskul musik, tanpa menunggu lama mereka bertiga ikut berkumpul dalam
demo kecil tersebut. Para guru dan siswa keluar ruangan untuk melihat apa yang
sedang terjadi, kepala sekolah pun ikut melihat. Kepala sekolah akhirnya
menenangkan demo kecil dan memutuskan untuk diadakannya ekskul musik. Semua
siswa yang berada di lapangan bersorak
kegirangan, kini Iqbaal bisa bermain musik disekolah kapanpun ia mau
tanpa menganggu aktivitas belajarnya. Mereka sekarang mempunyai ruangan untuk berkumpul
dan bisa membahas apa saja termasuk membuat sebuah lagu.
Hari-hari Iqbaal kini lebih ceria, selain diajak untuk rekaman dan
mempunyai ekskul musik di sekolah, Iqbaal juga bersemangat untuk membuat lagu.
Tadi malam Iqbaal mendapatkan ide untuk judul lagunya yaitu Alunan Hidup, judul
ini Iqbaal dapatkan dari apa yang telah ia
alami selama ini dan untuk liriknya Iqbaal mendiskusikannya dengan Kiki dan
Fildza diruang musik saat jam istirahat.
Sudah hampir sebulan Iqbaal, Kiki, dan Fildza membuat lagu akhirnya
selesai juga. Pulang sekolah mereka pergi ke tempat Om Efendy untuk menunjukkan
hasil karya mereka sendiri. Om Efendy membaca lagu Alunan Hidup dan meminta
mereka untuk menampilkannya, setelah Om Efenddy merasa puas di hari itu juga
mereka rekaman untuk yang pertama kalinya, karena mereka sering berlatih
rekamanpun cepat selesai. “Kalian ini sangat luar biasa sekali, Om juga
mendengar dari keponakan Om bahwa kalian bersikeras untuk membuat ekskul musik
disekolah, itu adalah jiwa yang sangat berani sekali, Om bangga pada kalian,”
puji Om Efendy. “Ah biasa aja kok Om, Om ini memuji kami terus, kan kami jadi
malu,” ujar Kiki. Hari sudah sore Iqbaal, Kiki, dn Fildza berpamitan untuk
pulang karena mereka harus beristirahat dan belajar.
Semingu kemudian lagu mereka sudah ada di radio-radio dan orang tua mereka
sangat senang, ternyata mereka bertiga memiliki bakat yang terpendam. Mereka
juga sering diundang keacara festival atau acara lainnya, walaupun mereka sudah
terkenal mereka bertiga tetap tidak melupakan diri mereka sebagai pelajar. Mereka
menamain grupnya sebagai TRIPEL yaitu Trio Pelajar.
Komentar
Posting Komentar